Sabtu, 12 Desember 2015

HAL DUNIA MAYA FB

10 Juni lalu saya sudah menulis kesan soal Kompasiana baru di status FB, ini karena Alan Budiman adalah salah satu akun yang sampai saat itu belum bisa menayangkan tulisan di K. Pada status tersebut sengaja saya mention Kang Pepih Nugraha. Selang beberapa menit beliau memberi komentar yang pada intinya K yang baru memiliki deadline harus fixed dan sempurna pada 1 Juli 2015. Kalau tidak, maka akan dikembalikan ke K yang lama. Membaca komentar tersebut saya merasa ngeri-ngeri sedap. Senang dengan ketegasan dan deadline yang dibuat, namun merasa eman juga kalau harus dikembalikan ke K lama yang kita semua tau sangat menyulitkan kompasianer pengguna gadget atau mobile. Sementara K yang baru sudah sangat baik yang bahkan pengguna mobile kini bisa melihat semua konten yang ada di versi dekstop (HL, TA dll). Rasanya nggak rela kalau harus dikembalikan ke versi lama. Kini 17 Juni, tentu saja perbaikannya sudah mulai lebih banyak. Tapi agar jelas maka saya akan bahas secara keseluruhan, termasuk status FB 10 Juni lalu dengan bahasa saya yang baru. Berikut ini beberapa point perubahan hasil pantauan saya dan sedikt tanda tanya pada pihak Admin. 1. Banyak Jebakan if else dan Loop Fungsi dari jebakan ini adalah untuk menghindari double posting atau comment. Tombol publish dan tombol submit pada kolom komentar akan berwana biru dan tidak bisa ditekan lagi selama proses penyimpanan. Menariknya lagi, saat menayangkan tulisan tidak akan ada lagi auto reload. Website akan stay sejenak sebelum akhirnya mucul tukisan hijau mencolok kecil "tersimpan" atau "published." 2. Responsive Web Design Secara teori saya tau adanya RWB, namun pada prakteknya baru saya temukan dan lihat di Kompasiana. Kekatroan ini mungkin karena faktor saya tidak pernah meneliti setiap website yang saya kunjungi. Dengan RWB ini kita tidak perlu mereload ulang website dengan tombol ajaib "dekstop view" di browser mobile kita. Jika layar gadget cukup besar seperti tablet 7inch misalnya, saat diputar landscape maka kompasiana akan otomatis berubah jadi tampilan desktop, sekali lagi tanpa reload. 3. Statistik Nah ini adalah point paling menarik menurut saya yang kemudian dijadikan (efek) judul artikel ini. Saya cukup memantau perubahan yang terjadi hampir setiap harinya. Dn hari ini adalah puncak munculnya statistik di akun kita masing-masing. Menampilkan jumlah artikel, viewer, komentar, rating dan tentu saja berapa kali Headline dan Highlight. Hati saya merasa "nyesss." Haha Saat pagi tadi saya buka, terhitung saya baru 19 kali Highlight dari 308 artikel. Apa ga pusing palaku? Namun beruntung rupanya statistik tersebut terus bergerak sehingga terakhir saya cek angkanya sudah seperti di gambar. Yang membuat saya tertarik sebenarnya adalah Highlight. Buka saja masuk dalam hitungan statistik namun juga diberi label dalam setiap artikel seperti HL K versi lama. Pada K baru, jika tulisan kita HL maka akan ada dua badge yakni Highlight dan Headline. Bagi saya, ini sangat 'mengkhawatirkan' sebab saya termasuk kompasianer yang tulisannya masih belum bagus meski sudah sejak 2011 bergabung. Dampak seriusnya tentu pada label Highlight tadi. Kalau menuliskan artikel dan ternyata tidak highlight, duuh....nyeeesnya tuh di mata. Namun sisi positifnya adalah saya menjadi termotivasi untuk memperhatikan setiap tulisan yang akan ditayangkan. Lalu apa hubungannya dengan 'ditelanjangi'? Ya itu tadi, statistik memberi angka-angka yang bisa dengan mudah ditafsirkan. Bayangkan jika saya menulis 308 artikel sementara yang highlight hanya 19 artikel, lantas sisanya 289 itu artikel apa? Fiuuuh. 4. Followers dan Following Kompasiana baru seperti meleburkan tampilan G+ dengan bahasa Twitter (followers). Jadi nantinya hampir bisa dipastikan tidak akan ada lagi fitur add friend. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana Kompasiana mengatur Followers dan Following ini? Berpikir secara sistem, maka mungkin mereka yang meng-add kita duluan akan masuk pada kolom followers. Namun jika kita yang meng-add maka akan dimasukkan pada kolom following. Saya mengatakan mungkin karena fitur ini belum fix. Sebab dengan logika sistem tadi saya cukup mengingat beberapa nama kompasianer yang meng-add saya masih masuk dalam kolom following dan followers sekaligus. Mayoritas teman masih masuk di dua kolom, namun secara angka memang ada perbedaan. Hal ini tentu saja another ngeri-ngeri sedap. Karena jika prediksi ini benar, maka akan ketahuan siapa saja yang kebanyakan nge-add dan saya cukup dagdigdug untuk mengetahui akun-akun di kolom following, jangan-jangan kebanyakan akun kaum hawa? Hihihi. 5. Fitur Komentar FB Hal yang paling saya tunggu sebenarnya adalah fitur yang satu ini. Dimana seseorang bisa langsung ikut mengomentari tanpa perlu menjadi member Kompasiana. Fitur seperti ini bisa kita lihat di banyak website media mainstream. Keuntungannya tentu adalah jumlah share dan meningkatkat keterbacaan artikel itu sendiri. Selain itu akan lebih banyak lagi komentar dan argumen tanggapan yang pada akhirnya secara otomatis akan mengundang para komentator tersebut untuk menjadi kompasianer. Tapi sampai sekarang fitur ini belum ada dan sepertinya memang tidak dalam satu paket rumah baru Kompasiana. 6. Dashboard Tidak adanya dashboard sampai sekarang membuat kita harus mengecek langsung tulisan sendiri. Tapi untuk tulisan yang kita komentari, jika meninggalkan jejak di banyak artikel, maka kita belum bisa tau apakah komentar tersebut sudah ditanggapi apa belum. Menariknya, fitur ini adalah fitur yang paling lama proses pemasangannya. Entah seberapa rumit kode penyesuainnya, yang pasti akan sangat bercabang jika admin mengabulkan keluhan kompasianer yang menginginkan agar notifikasi based on comment, bukan per artikel secara keseluruhan. Jadi nantinya notifasi yang masuk hanya pemberitahuan reply terhadap komentar kita sendiri. 7. Kolom HL, TA, MR dan MC Sebaiknya kolom ini diekslusifkan seperti kolom K versi lama dimana tulisan HL tidak akan secara bersamaan ada di kolom TA. Mungkin itu saja catatan (pertanyaan, harapan, dan masukan) dari yang bisa saya tangkap sampai saat ini soal Kompasiana baru. Andai nantinya dashboard persis seperti prediksi ini (atau mungkin melebihi), maka saya beri nilai 100 untuk website baru ini. Kelemahannya, website ini terasa lebih berat dari K yang lama. Tapi mungkin ini efek web yang belum selesai. Saya harus menginstall UC Browser karena browser bawaan tab sangat kesulitan membuka Kompasiana.




0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com