Perlukah Blogger Memiliki Deadline?
12 Mei 2014 22:22:42 Diperbarui: 23 Juni 2015 22:35:14
Dibaca : 18 Komentar : 0 Nilai : 0 Dulu, saat masih bekerja di sebuah koran
harian lokal saya terbiasa dengan deadline(batas waktu penyetoran naskah).
Seakan-akan deadline ini adalah hantu yang menakutkan. Deadline membuat waktu
seakan berjalan begitu singkat. Gerak kita begitu dibatasi. Semua diingatkan
agar tak melewati deadline. Saya kemudian memilih keluar dari tawanan deadline
saat memutuskan berhenti bekerja di koran yang sudah saya jalani selama 3,5
tahun. Sejak saat itu saya tak lagi dikejar-kejar deadline. Waktu pun melambat,
karena tak ada yang harus dikejar. Tapi, saya kemudian merasa ada sesuatu yang
berubah saat tak lagi punya deadline. Saya jadi malas menulis, kurang produktif,
dan jika pun menulis sesuatu biasanya sering tidak pernah siap. Saya pun jadi
sadar, bahwa tanpa memiliki deadline saya tak bisa menyelesaikan tulisan. Pun
begitu, beberapa kali saya berjanji pada diri sendiri bahwa meski tak punya
deadline, saya harus rajin menulis. Apalagi, setelah keluar dari koran, saya
punya cukup waktu untuk menulis, tanpa direcoki oleh kerja kantor. Saya
berusaha tetap menulis karena ada blog yang harus saya isi. Saya ingin agar
blog tersebut selalu terupdatedengan tulisan-tulisan terbaru. Apa boleh buat,
deadline pribadi pun sering saya langgar. Semangat menulis saya menjadi
angin-anginan. Kadang seminggu sekali lahir tulisan baru, kadang sebulan hanya
sempat menyelesaikan satu tulisan, sering malah tak selesai sama sekali. Padahal,
saat masih kerja di koran, saya biasa menulis tiap hari, terutama untuk mengisi
kolom yang saya asuh. Semangat menulis yang angin-anginan itu pun kemudian
membuat blog saya kosong melompong karena tak update terbaru. Kenapa bisa
demikian? Karena tak ada yang perlu dikejar, tak ada yang komplain, tak ada
halaman yang harus diisi dan tak ada kolom yang harus ditulis. Sebab kita
adalah tuan terhadap diri sendiri. Kita atasan, kita bawahan. Akhirnya saya
sadar, bahwa deadline ternyata memberi banyak manfaat dan membuat saya sangat
produktif. Deadline seperti jam beker yang mengingatkan kita untuk
menyelesaikan tulisan. Percaya atau tidak, cukup banyak orang yang bekerja di
media menjadi termotivasi dengan adanya deadline. Deadline memaksa seseorang
menjadi fokus dan mampu menyelesaikan tulisan. Malah, Goenawan Mohammad (GM),
pendiri Majalah TEMPO yang Catatan Pinggirnya sering kita baca mengaku dirinya
cukup terbantu dengan adanya deadline. Suatu hari, Amarzan Lubis, editor Bahasa
di TEMPO bertanya sama GM, “Apa yang menyebabkan GM mampu menulis Catatan
Pinggir tiap minggu? Tanpa pikir panjang, pendiri Komunitas Salihara ini
menjawab, singkat: “deadline!” Nah, para blogger juga harus menetapkan deadline
posting tulisan agar blognya selalu terupdate secara teratur. Apakah satu
posting setiap hari, satu posting setiap minggu atau satu posting setiap bulan.
Jadwalnya harus ditetapkan, misalnya posting setiap pukul 10 pagi tiap Senin
atau sebagainya. Saya percaya, jika para blogger setia dengan deadline yang
disepakati (dengan diri sendiri) tersebut, blognya akan selalu terupdate secara
teratur. Banyak manfaat yang akan diterima seorang blogger dengan menetapkan
deadline menulis di blog. Kalau ada kontes menulis, misalnya, blogger yang
sudah terbiasa dengan deadline posting di blog sama sekali tak kerepotan saat
menyiapkan sebuah tulisan. Toh, dia sudah terbiasa menulis untuk blognya secara
teratur. Tenggat waktu pengiriman tulisan untuk sebuah kontes menjadi sesuatu
yang sudah biasa. Manfaat lainnya, kalau sudah mampu update blog secara
teratur, pembaca pasti akan selalu setiap menunggu posting terbaru, yang sudah
terjadwal waktunya. Selain itu, dengan update blog secara teratur sesuai
deadline, posisi blog di mesin pencari menjadi lebih baik. Di luar itu, kalau
terus setia dengan deadline, sang blogger layak disebut sebagai penulis yang
sangat produktif!






0 komentar:
Posting Komentar